Tim Peneliti ISBI Bandung Ungkap Pesona Pencak Silat Tidore: Gerak Lincah dan Jiwa Petarung Seorang Nelayan

Lintangpena.com Tidore, Maluku Utara – Tim peneliti dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung telah melakukan riset tahun kedua Kemdikbudristek 2024, dengan fokus pada pencak silat dari berbagai wilayah, termasuk Tidore. Tim yang dipimpin oleh Prof. Dr. Sri Rustiyanti, S.Sn., M. Sn, dan beranggotakan Dr. Wanda Listiani, M. Ds dan Anrilia E.M. Ningdyah, S.Psi., M.Ed., Ph.D., Psikolog, telah menelusuri kekayaan budaya dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam pencak silat Tidore.

Pencak Silat Tidore: Warisan Budaya Maritim dengan Gerak Lincah dan Filosofi Mendalam

Bacaan Lainnya

Pencak silat Tidore, sebagai salah satu warisan budaya maritim Indonesia, memiliki gaya bertarung yang unik dan khas. Gaya bertarung ini terbentuk dari sejarah panjang masyarakat Tidore yang seringkali terlibat dalam pertempuran laut dan pertahanan wilayah. Silat Tidore tidak hanya mengandalkan kekuatan semata, tetapi juga menekankan pada kelincahan dan kecepatan gerak kaki. Gerak pencak silat cenderung mengalir dan luwes, memungkinkan pesilat untuk menghindari serangan lawan dan melancarkan serangan balik dengan cepat. [3]

 

Gerakan yang Terinspirasi dari Laut dan Angin

Silat Tidore memiliki karakteristik gerak yang lincah. Sebagai masyarakat maritim, masyarakat Tidore sering berhadapan dengan medan yang tidak rata dan pertempuran di atas kapal. Hal ini menuntut mereka untuk memiliki gerakan yang lincah dan mampu menjaga keseimbangan. Budaya maritim juga mempengaruhi gaya bertarung silat Tidore. Gerakan-gerakannya seringkali terinspirasi oleh gerakan gelombang laut dan angin. [3]

Teknik Serangan dan Pertahanan yang Praktis dan Efektif

Keterangan: Ilustrasi Seni Beladiri Pencak Silat 

Silat Tidore pada awalnya dikembangkan sebagai sarana pertahanan diri untuk melindungi diri dan komunitas. Oleh karena itu, teknik-teknik yang diajarkan lebih bersifat praktis dan efektif dalam situasi pertempuran. Sering bertempur di atas kapal atau di medan yang tidak rata, silat Tidore banyak menggunakan teknik tendangan dan langkah kaki yang kuat. Kaki menjadi salah satu senjata utama dalam menyerang dan bertahan. Silat Tidore menguasai baik teknik jarak jauh maupun jarak dekat. Adapun untuk jarak jauh, sering digunakan teknik tendangan dan pukulan yang panjang, sedangkan untuk jarak dekat, lebih banyak menggunakan teknik kuncian, bantingan, dan pukulan pendek. Silat Tidore juga melatih teknik tangan kosong, namun silat Tidore juga menggunakan senjata tradisional seperti parang, keris, dan tongkat menjadi bagian penting dari pelatihan silat. [3]

Filosofi yang Mencerminkan Jiwa Petarung

Silat Tidore pada dasarnya adalah seni bela diri yang dikembangkan untuk tujuan pertahanan diri. Oleh karena itu, teknik-teknik yang diajarkan lebih banyak berfokus pada cara menghindari serangan lawan dan melumpuhkan lawan secepat mungkin. Filosofi silat Tidore ‘Munara ma laha se Banari yo sigoko toma peda ma Doto, kandati Au yo Lele se Masijapu hale, Cili ua Ngali mai Ua’ bermakna ketika sesuatu yang baik dan benar menjadi tujuan dari perjuangan, maka meski mati berkalang tanah, takan mundur sejengkalpun. Pantang surut langkah ke belakang.

Penelitian ISBI Bandung: Mengungkap Kekayaan Budaya dan Nilai Luhur

Riset ISBI Bandung di Tidore bertujuan untuk menggali kekayaan budaya dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam pencak silat Tidore. Tim peneliti telah mengunjungi Kelurahan Ome Kecamatan Tidore Utara dan bertemu dengan Lurah, staf kelurahan, guru silat Darwis, pesilat Basri, Yuli, dan Gamar, serta para pemain musik gendang, rebab, dan goong.

Pencak silat Tidore merupakan warisan budaya yang kaya akan sejarah, filosofi, dan teknik bertarung yang unik. Gerakan lincah dan jiwa petarung seorang nelayan tercermin dalam setiap gerakannya. Riset ISBI Bandung diharapkan dapat mengungkap lebih dalam kekayaan budaya dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam pencak silat Tidore, serta melestarikan warisan budaya maritim Indonesia ini untuk generasi mendatang.

Fauzie

Editor: Asep NS 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *