Lintangpena.com PEKANBARU – Kekuatan sebuah bangsa tak hanya dibangun infrastruktur, melainkan moralitas dan integritas pemimpinnya. Kini publik kembali menyoroti rekam jejak masa lalu Agung Nugroho, Calon sekaligus Walikota Pekanbaru, terkait dugaan manipulasi pernikahan dan eksploitasi terhadap Gisela Kartika.
Kasus Berakar Tahun 2010, Luka Belum Pulih
Peristiwa bermula tahun 2010, saat Gisela masih di bawah umur dan berprestasi sebagai model (Finalis Jelita Riau Pos 2007, Wajah Sampul Kawanku, Miss Indonesia 2008). Diduga Agung menghamilinya, lalu merancang pernikahan mendadak dengan akta nikah palsu tanpa sepengetahuan ayah korban yang sedang dinas luar kota.
Keluarga korban mengalami trauma mendalam hingga terpaksa pensiun dini, menjual aset dan pindah ke Bali. Laporan polisi sejak tahun 2010 dengan nomor LP/103/VI/2010/Reskrim/UM/Riau terkait pemalsuan surat, namun keadilan belum sepenuhnya tercapai.
Berita terkait: Adik Mantan Istri Agung Nugroho Bongkar Kejahatan Sang Calon Walikota Pekanbaru 14 Tahun Silam (Kilat.com)
Pemimpin Wajib Punya Moral Tinggi
Ketua Umum PPWI, Wilson Lalengke, mengecam keras hal ini. Ia menegaskan sosok dengan rekam jejak kejahatan moral tak layak jadi teladan, dan harus dipertanggungjawabkan secara hukum.
Hal ini sejalan pemikiran filsuf Plato soal pemimpin ideal yang berbudi luhur, serta nilai Pancasila—terutama Sila Kedua soal kemanusiaan yang beradab. Tindakan eksploitasi dan pemalsuan jelas melanggar nilai luhur tersebut.
Masyarakat Riau yang menjunjung adat Melayu menuntut hukum tak boleh pandang bulu. Kasus ini bukan sekadar urusan masa lalu, melainkan ujian nurani bangsa: tegakkan kebenaran demi keadilan dan kemuliaan pemimpin.
(TIM/Red/PPWI)
Editor: Nurhidayah







