Tolak Rencana Kontinjensi, Spanyol–Maroko Kokohkan Kemitraan Strategis di Tengah Isu Ceuta

Lintangpena.com RABAT — Di tengah gelombang isu migrasi di Ceuta yang memicu spekulasi ketegangan, Pemerintah Spanyol secara resmi membantah adanya rencana darurat terhadap Maroko. Penegasan ini justru menjadi bukti bahwa kedua negara memilih memperkuat jembatan kerja sama antarbenua, bukan membangun tembok konfrontasi.

Spekulasi Ditepis, Kerja Sama Ekonomi Makin Kuat

Bacaan Lainnya

Klarifikasi resmi muncul setelah media Spanyol memberitakan dugaan penyusunan rencana kontinjensi. Pemerintah Madrid menegaskan tidak ada rencana semacam itu. Sebaliknya, hubungan bilateral terus berjalan erat, terutama di sektor perdagangan. Maroko kini menjadi mitra dagang utama Spanyol di Afrika, dengan nilai perdagangan bilateral pada 2024 menembus rekor US$22 miliar. Komoditas strategis seperti minyak olahan dan gas alam menjadi tulang punggung ekspor, di mana pasokan gas ke Maroko melampaui 822 gigawatt-jam.

Meski Partai Popular (PP) dan Vox mendesak sikap keras, pemerintah tetap konsisten memprioritaskan dialog, dan mengakui bahwa kolaborasi dengan Rabat adalah kunci keberhasilan meredam krisis migrasi secara efektif.

Persisma: Pilih Dialog, Bukan Kebijakan Reaktif

Langkah konstruktif ini mendapat apresiasi dari Wilson Lalengke, Presiden Indonesia-Sahara-Morocco Brotherhood (Persisma).

“Kami menyambut baik ketegasan Spanyol yang menolak narasi konfrontatif. Isu perbatasan butuh pendekatan holistik, bukan kebijakan reaktif. Kemitraan ini bisa menjadi model global dalam menyelaraskan kepentingan geopolitik dan penanganan isu kemanusiaan lintas benua,” ujarnya dari Jakarta, 2 September 2026.

Sejalan dengan Pemikiran Dialog Habermas

Pendekatan kedua negara sejalan dengan gagasan filsuf Jürgen Habermas (1929–2026) tentang Tindakan Komunikatif, yang menekankan bahwa penyelesaian konflik hanya dapat dicapai melalui dialog dan saling memahami — bukan prasangka atau tindakan sepihak. Spanyol dan Maroko membuktikan bahwa ruang publik yang transparan berlandaskan rasa percaya dan ketergantungan yang saling menguntungkan adalah fondasi tatanan dunia yang lebih stabil.

Dengan dukungan internasional dan komitmen kedua pemerintah, kawasan Mediterania diharapkan semakin kokoh berdiri sebagai wilayah kerja sama yang adil dan sejahtera bagi kedua bangsa.

PERSISMA / Red /PPWI 
Editor: Nurhidayah

#SpanyolMaroko #KemitraanAntarbenua #DiplomasiKonstruktif #Ceuta #PerdaganganGlobal #Persisma #WilsonLalengke #HubunganInternasional #Lintangpena

Pos terkait