Lintangpena.com LAMPUNG – 17 Mei 2026 – Nasib malang menimpa ratusan penumpang dan pengemudi kendaraan yang menaiki KMP Mutiara Persada 3 milik PT ALP. Kapal ini kini menjadi sorotan dan sempat viral di media sosial, setelah terkatung-katung tak berdaya di perairan Kalianda, Lampung, sejak berhari-hari lamanya akibat kerusakan mesin yang terjadi di tengah laut.
Salah satu korban yang mengungkapkan kekecewaannya adalah Dedi Kurniadi (53 tahun), pengemudi dari Bahtera Surya Cargo (BSC) dengan nomor polisi kendaraan B9179 KXS. Melalui keterangannya yang disampaikan kepada awak media lewat Kaperwil Aceh, Adi Tonang, Dedi menceritakan betapa kacau dan menderitanya perjalanan yang seharusnya menjadi pelayaran biasa.
Menurutnya, tiket telah dibeli dengan jadwal keberangkatan tanggal 13 Mei pukul 08.00 WIB. Namun kenyataannya, jadwal terus bergeser hingga penurunan muatan baru dimulai pukul 21.00 WIB, dan kapal baru benar-benar lepas sandar pada pukul 04.30 WIB keesokan harinya.
Belum hilang rasa lelah akibat penundaan panjang, bencana justru datang lebih cepat. Baru berjalan beberapa saat, tepatnya pukul 08.00 WIB tanggal 14 Mei, mesin kapal mendadak mogok total di tengah perairan Kalianda. Sejak saat itu, kapal berisi sekitar 110 unit kendaraan ini hanya diam terapung tanpa kepastian.
“Pihak kapal mengakui mesin rusak dan bermasalah. Dulu kami sudah cemas, tapi mereka berjanji kapal akan derek sampai ke tujuan akhir, Pelabuhan Panjang. Nyatanya sampai hari ini, 17 Mei, janji itu cuma manis di mulut saja. Kami masih terjebak di sini,” ungkap Dedi dengan nada kesal.
Bagi Dedi, musibah ini bukan sekadar masalah waktu, melainkan ancaman nyata bagi ekonomi dan masa depannya. Keterlambatan berhari-hari membuat barang yang dibawa tidak sampai tepat waktu, sehingga menimbulkan kerugian besar. Yang paling ia khawatirkan justru pekerjaannya di perusahaan tempatnya bernaung. Ia takut dianggap lalai, padahal ia hanyalah korban kelalaian pihak pengangkut.
“Saya merugi besar karena kejadian ini. Tapi yang paling saya cemaskan adalah nasib pekerjaan saya. Saya harus pertanggungjawabkan barang ini, padahal keterlambatan sama sekali bukan salah saya. Kami berharap ada pihak yang bertanggung jawab dan segera bergerak,” keluhnya.
Hingga berita diturunkan, para penumpang masih bertahan di atas kapal dalam kondisi semakin sulit, menunggu kepastian dan pertolongan nyata dari manajemen PT ALP maupun instansi berwenang.
Sumber: Sopir Bahtera Surya Cargo (BSC)
Liputan: Adi Tonang
Editor: Nurhidayah
