Lintangpena.com, Karawang – Kegiatan Pelatihan Perikanan Berbasis Ekosistem EAFM (Ecosystem Approach to Fisheries Management)
Kegiatan Pelatihan Perikanan Berbasis Ekosistem EAFM (Ecosystem Approach to Fisheries Management)
Perkuat Pengelolaan Perikanan Di Kepulauan Derawan Melalui Pendekatan Eafm
Besarnya potensi kelautan dan perikanan yang dimiliki Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K) Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya (KDPS) menjadi ketertarikan dan perhatian banyak orang. Hal ini mendorong peningkatan permintaan pasar dan berpotensi mengakibatkan pemanfaatan sumber daya perikanan tidak terkontrol yang mengarah pada terjadinya kerusakan habitat. Jika terus dibiarkan, tidak menutup kemungkinan sumber daya kelautan dan perikanan di Kepulauan Derawan akan menurun drastis, hal ini terlihat dari laporan hasil penilaian EAFM di KKP3K KDPS tahun 2021 terjadi peningkatan jumlah perahu dimana sebelumnya pada tahun 2015 ada 810 unit perahu menjadi 1.029 unit pada tahun 2020, produksi hasil tangkapan sebelumnya sebanyak 1.647,13 ton/tahun dan sekarang mengalami penurunan 827,25 ton/tahun, dan jumlah kapasitas penangkapan sebelumnya sebesar 352.222.279,20 ton/trip-tahun/unit dan sekarang mengalami penurunan 224.728.512,62 ton/trip-tahun/unit. Dari data tersebut bisa jadi untuk beberapa tahun ke depan, sumber daya kelautan dan perikanan tidak akan bisa dinikmati lagi oleh generasi penerus. Oleh karena itu, diperlukan adanya keterpaduan antar pemangku kepentingan atau mitra dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan di Kepulauan Derawan menjadi sesuatu yang mutlak diperlukan untuk optimalisasi pengelolaan.
Hal lainnya terkait EAFM disampaikan oleh Ihsan dari IPB (Institut Pertanian Bogor) yang mendampingi 20 warga Bangladesh dalam rangka studi banding ke hutan Mangrove Pantai Sedari Karawang Jawa Barat Minggu 26 Maret 2023 guna mempelajari ekosistem berbasis EAFM, ” Mereka dari Bangladesh dan tertarik dengan hutan-hutan mangrove di Indonesia, kali ini mangrove di pantai Sedari Karawang yang menjadi tujuan utama program studi bandingnya “,ujar Ihsan.
” Hasil studi banding disini akan diterapkan di negara mereka, dari mulai pengelolaannya, pengurusannya, tidak hanya dari Bangladesh, ada pula trainer dari Inggris dua orang “, pungkas Ihsan.
Riyan/Saprol/Intan Wulan Sari
Editor : Asep NS







