Lintangpena.com BANDAR LAMPUNG, 7 Oktober 2026 — Di era di mana setiap orang dapat menjadi penyampai berita melalui genggaman tangan, pertanyaan mendasar pun muncul: untuk siapa informasi disebarkan, dan ke arah mana suara publik diarahkan? Menjawab hal ini, Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) akan menggelar Seminar Internasional di Bandar Lampung pada 11 November 2026, bertepatan dengan peringatan ke-19 tahun perjalanan organisasi.
Mengusung tema “19 Years of PPWI: Affirming the Role of Citizen Journalists for Peace, Justice, and Humanity”, kegiatan ini bukan sekadar perayaan ulang tahun — melainkan panggung pertemuan gagasan lintas benua yang menegaskan: jurnalisme warga adalah kekuatan sosial yang nyata untuk perdamaian, keadilan, dan kemanusiaan.
Tokoh dari Empat Negara Berkumpul di Bandar Lampung
Seminar ini menghadirkan deretan pembicara yang mencerminkan keberagaman sekaligus persaudaraan antarbangsa:
– Rusia — Madam Elena Semerikova, Ketua Gerakan Perdamaian Dunia Internasional “Dialog Perempuan”, yang akan mengangkat pentingnya dialog sebagai jembatan antarnegara;
– Mesir — Dr. Ahmed Issa Bedir (Penasihat Dewan Pemuda & Ekonomi Kreatif Liga Arab) serta Prof. Mohamed Sayed Mohamed (Universitas Al-Azhar, Kairo), membawa perspektif pemuda, pendidikan, dan komunikasi global;
– Libya — Dr. Faez Mohmad Monsour Alfarjani, jurnalis senior, membagi pengalaman dinamika media di kawasan Afrika Utara;
– Indonesia — Prof. Dr. Sufmi Dasco Ahmad (Wakil Ketua DPR RI) dan Prof. Dr. Syarief Mahkya (Universitas Lampung), memperkuat arah kebijakan dan wawasan akademik dalam negeri.
Dari jurnalistik, politik, pendidikan, kepemudaan, hingga kemanusiaan — semua duduk bersama dalam satu forum.
Kekuatan Baru, Tanggung Jawab yang Lebih Besar
Teknologi digital telah mengubah peta informasi secara total. Dahulu, berita lahir dari ruang redaksi; kini, berita lahir dari setiap sudut masyarakat. Citizen journalism membuka ruang bagi suara yang tak didengar, menyoroti persoalan yang tersembunyi, dan menyatukan perhatian publik secara cepat.
Namun kekuatan ini datang dengan syarat:
“Kecepatan tidak boleh mengorbankan kebenaran. Kebebasan tidak boleh menjadi senjata kebencian. Kritik harus berpijak pada fakta. Dan setiap laporan harus tetap menjaga martabat manusia.”
PPWI menegaskan: pewarta warga tidak cukup hanya melaporkan — mereka harus menjadi bagian dari solusi.
Jurnalisme yang Menyembuhkan, Bukan Memperuncing
Di tengah dunia yang masih terbelah konflik, ketegangan, dan penyebaran berita tak benar, media memiliki peran penentu: informasi dapat meruntuhkan sekat, atau justru membangun tembok pemisah. Seminar ini ingin menegaskan bahwa jurnalisme untuk perdamaian bukan impian — melainkan kebutuhan mendesak.
Bandar Lampung dipilih bukan tanpa makna: dari jantung Nusantara, pesan perdamaian akan dikirim ke seluruh penjuru dunia — bahwa setiap warga, melalui laporan yang jujur dan bertanggung jawab, turut menyusun tatanan dunia yang lebih damai.
Membuka Pintu Kemitraan Lintas Sektor
Selain diskusi, acara ini membuka peluang kemitraan luas bagi perusahaan, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, pemerintah, dan media. Tersedia ruang pameran, jejaring, dan kerja sama yang melampaui batas acara — menjalin hubungan jangka panjang di bidang jurnalistik, pendidikan, ekonomi kreatif, teknologi, dan kemanusiaan.
19 Tahun: Bukan Garis Akhir, Melainkan Langkah Awal
Sembilan belas tahun perjalanan PPWI adalah bukti keteguhan. Di tengah banjir informasi, masyarakat butuh kepercayaan. Di tengah perdebatan, dibutuhkan dialog. Di tengah ketidakadilan, dibutuhkan suara yang berani sekaligus membangun.
Pada 11 November 2026, Bandar Lampung menjadi saksi: pewarta warga hadir, bersatu, dan siap membawa perubahan. Bagi PPWI, ini bukan akhir cerita — melainkan awal babak baru: membangun dunia yang lebih terbuka, adil, damai, dan manusiawi — dimulai dari suara warga sendiri.
TIM/Red/PPWI
Editor: Nurhidayah
#PPWI19Tahun
#JurnalismeWarga
#SeminarInternasionalLampung
#PerdamaianMelaluiInformasi
#KeadilanDanKemanusiaan
#BandarLampungPusatDunia
